web analytics

ACARA SARASEHAN ANTARA MAJELIS ULAMA DAN PEMERINTAH DAERAH DI BUKA OLEH SEKDAKAB WAYKANAN

Waykanan – Sekdakab Way Kanan Saipul membuka Kegiatan Saresehan Dan Sinergisitas Pemerintah Daerah, Majelis Ulama Dan Cendikiawan Muslim Dalam Menanggulangi Bahaya Radikalisme Di Kabupaten Way Kanan di Aula Kantor Kemenang Way Kanan, Senin (21/12).

Hadir dalam kegiatan tersebut, Kepala Kejaksaan Negeri, Kepala Kantor Kementerian Agama Way Kanan, Ketua dan jajaran pengurus MUI, Ketua dan Jajaran pengurus ICMI, tokoh agama, dan para tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya di kegiatan ini dengan Narasumber DR. Suwanto, MPd, Saipul mengatakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki keragaman agama, suku dan budaya dan menjadi ciri khas kehidupan bangsa dan negara. Pancasila sebagai ideologi bangsa telah teruji keefektifannya dalam menyatukan perbedaan di Nusantara.

“Namun, dikarenakan paham radikal yang menyebar di masyarakat, perbedaan harmonis bisa mereka jadikan sebuah permasalahan, dan unsur fanatisme mungkin saja muncul di antara perbedaan itu,” kata Saipul.

Dewasa ini dan secara bersamaan ancaman terbesar bagi Negara Indonesia dari dalam negeri sendiri, khususnya tindak terorisme dan radikalisme.

“Persoalan terorisme dan radikalisme tidak hanya dihadapi oleh Indonesia saja, namun seluruh negara di dunia. Aksi terorisme dan penyebaran paham radikal di Indonesia sendiri terus berkembang dengan berbagai macam bentuk,” ujarnya.

Guna mengatasi kondisi tersebut dibutuhkan energi yang besar untuk melakukan pemulihan ekonomi dan pemulihan kesehatan masyarakat. Seluruh elemen bangsa dituntut mencari inovasi baru, membangun kretifitas kolektif, dengan bergandengan tangan, merapatkan barisan dengan percaya diri sehingga dibalik kesulitan ada kemudahan, ada jalan keluar dan solusi.

Ditambahkan oleh Saipul, ada beberapa langkah dan strategi kontra radikalisasi untuk menghadapi radikalisme, pertama, penanaman nilai-nilai ke-Indonesiaan atau wawasan kebangsaan serta nilai-nilai non kekerasan melalui pendidikan, baik formal maupun non formal.

Kedua memperkuat pendidikan dan pembinaan karakter kebangsaan dengan menanamkan pemahaman Empat Pilar Kebangsaan, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika kepada seluruh komponen bangsa; Dan ketiga memberikan pemahaman agama yang damai dan toleran agar masyarakat tidak mudah terpecah belah. (Sp)

%d bloggers like this: