web analytics

Blok Rancabaren Menjadi Rebutan Pelaksanaan TOL Cisumdawu ST 49-800 Jalan Ditempat

Sumedang – Menindak lanjuti pemberitaan SNP Edisi Ke-703 berjudul “Pelaksanaan TOL Cisumdawu ST 49-800 Terganjal Kerikil Ketika masalah ini diminta tanggapannya kepada Sekda kabupaten Sumedang melalui Whatsapp hingga berita ini diturunkan belum mendapat tanggapan. (30/8) ini menandakan apa yang dikatakan tokoh masyarakat yang biasa dipanggil UTUG benar bahwa pihak Pemda Sumedang tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat Desa Babakan Asam Kec. Conggeang Kab. Sumedang.

Terkait Kayu hasil tebangan dari Blok Rancabaren ketika wartawan konfirmasi kepada Kepala TPK Cikahara Dadang mengatakan “Bahwa kayu hasil tebangan sudah dijual Ketika saya belum menjadi Kepala TPK disini” ucapnya kepada SNP. (26/8) untuk lebih jelasnya silahkan dikonfirmasi kepada KPH Sumedang, imbuhnya.

Ketika masalah ini hendak dikonfirmasi kepada KPH Sumedang pihak keamanan mengatakan Pak Heri lagi pergi ke Lapangan di Conggeang, ucapnya kepada Wartawan SNP. (26/8). Permasalahan Blok Rancabaren sepertinya akan menjadi teka-teki yang mungkin akan lama terjawab karena para pihak pemegang kepentingan di Blok Rancabaren seakan-akan menutup diri untuk menyelesaikan permasalahan Blok Rancabaren mulai dari Permasalahan Lahan yang terkena Jalan TOL dan juga Permasalahan kayu hasil tebangan. Adakah niat baik dari Pemda Kabupaten Sumedang untuk menyelesaikan Blok Rancabaren tanya Utug yang semenjak permasalahan Rancabaren mencuat hingga saat ini sudah jengah menunggu hasil terbaik untuk kepentingan masyarakat Desa Babakan Asam.

Sebagaimana kita ketahui Pembangunan Jalan TOL Cisumdawu diharapkan akan menunjang bandara Kerta Jati, dimana akan terhubung dengan Jalan Tol BIBJ yang akan mengurangi jarak tempuh dari Bandung sekitar 3 jam menjadi 1 jam.

            Tol Cisumdawu terdiri dari 6 seksi yang dibangun dengan skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dan ke enam seksi, seksi 1 dan 2 dikerjakan oleh Pemerintah sebagai bagian dari Viability Gap Fund (VGF) guna menaikan kelayakan investasi tol tersebut. Kemudian seksi 3-6 dikerjakan oleh Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yakni PT. Citra Karya Jalan Tol (CKJT) dengan nilai investasi Rp 8,41 T.

            Berdasarkan data untuk Seksi 1 Cileunyi – Rancakalong sepanjang 11,45 KM, Seksi 2 yakni Rancakalong – Sumedang sepanjang 17,05 KM, Seksi 3 dari Sumedang ke Cimalaka sepanjang 4,05 KM, Seksi 4 Cimalaka – Legok sepanjang 8,20 KM, Seksi 5 Legok – Ujungjaya sepanjang 14,9 KM dan Seksi 6 Ujungjaya – Dawuan sepanjang 6,06 KM.

            Proyek Jalan Tol Cisumdawu, (Cileunyi Sumedang Dawuan) yang diharapkan berjalan lancar sesuai rcncana akan selesai di akhir tahun 2021, akan tetapi diduga terganjal kerikil, seperti yang terjadi di Desa Babakan Asam ST 49-800 Blok Rancabaren.

            Sesuai dengan informasi dari tokoh masyarakat Desa Babakan Asam, permasalahan blok Rancabaren sampai saat ini belum diselesaikan. (13/8).

Sesuai dengan rapat pembahasan permasalahan Blok Rancabaren Kecamatan Conggeang pada 11 Maret 2020 di Ruang Sekda Kabupaten Sumedang. Adapun hasil pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan sebagai berikut:

1.         Pada prinsipnya semua pihak sangat mendukung proyek Nasional Jalan Tol;

2.         Penebangan di Blok Rancabaren disepakati mulai dilaksanakan hari kamis tanggal Dua Belas Maret Dua Ribu Dua puluh, dengan ketentuan;

a. Kayu hasil penebangan dilaksanakan penata usahaan secara terpisah / dipisahkan baik secara administrasi maupun fisik dengan kayu hasil penebangan dari lokasi lainnya.

b. Pelaksanaan penebangan pohon dilaksanakan oleh Perum Perhutani dengan mengikutsertakan BUMDES Desa Babakan Asem dan BUMDES Desa Cacaban

c.  Kayu hasil penebangan diangkut dan disimpan di TPK Cikaraha yang berlokasi di Desa Bugel Kecamatan Tomo Kabupaten Sumedang.

3.         Penyelesaian permasalah bilamana tidak diperoleh kesepakatan hasil musyawarah akan dilaksanakan melalui proses pengadilan.

Akan tetapi sampai dengan pelaksanaan perkerjaan jalan tol belum ada titik temu antara pihak Desa Babakan Asem dengan pihak Perhutani.

Masih menurut tokoh masyarakat yang juga di amini anggota masyarakat, disamping permasalahan hasil tebangan kayu adalagi permasalahan yang paling penting, dimana hal ini menjadi perbincangan umum di masyarakat Desa Babakan Asem Kecamatan Conggeang yakni masalah kepemilikan lahan yang terkena jalan tol, dan pemakaman umum.

            Masyarakat menunggu kepastian kepemilikan lahan yang terkena jalan tol, dimana lokasi tersebut di klaim oleh Perhutani dan Desa Babakan Asem.

            Masih menurut informasi dari tokoh masyarakat, hasil penebangan kayu, saat ini tidak diketahui kemana rimbanya karena pihak Desa Babakan Asem tidak melihat kayu hasil tebangan di TPK. Sangat membingungkan perilaku Perhutani, ucapnya kepada SNP (13/8)

            Sebenarnya minimal harus ada informasi kepada pihak Desa terkait hasil penebangan kayu yang ada di Blok Rancabaren imbuhnya.

Terpisah anggota masyarakat, yang akrab dipanggil Utug mengharapkkan kepada semua Aparat Pemerintah Sumedang, dari tingkat atas sampai bawah  turun tangan agar permasalahan Blok Rancabaren dan Permasalahan Desa Babakan Asem secepatnya diselesaikan. Diantaranya, permasalahan hasil tebangan kayu, pembayaran lokasi yang terkena proyek jalan tol dan pemindahan pemakaman umum.

Tanpa campur tangan Pemerintah Kab. Sumedang permasalahan tersebut akan berlarut-larut ucap Utug dengan nada kesal. (14/8)

Tol Cisumdawu yang diharapkan menjadi salah satu pendukung pengembangan Kawasan “Segitiga emas Cirebon, Subang, Majalengka (Rebana) sebagai pusat pertumbuhan ekoonomi baru.

Tol Cisumdawu juga menjadi salah satu Tol dengan pemandangan yang indah, yang menyuguhkan panorama pegunungan di bumi priangan di samping gadis-gadisnya yang ramah dan cantik menjadikan setiap pengendara ingin selalu melintas di Tol Cisumdawu. (R3)

%d bloggers like this: