Bogor SNP – Puluhan anak yang mengikuti kegiatan Posyandu di Kampung Sirnabakti, Desa Pasir Tanjung, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor, diduga mengalami keracunan makanan setelah mengonsumsi menu mie ayam yang disediakan oleh dapur MBG (Makan Bergizi Gratis), Selasa (7/4)
Peristiwa tersebut sempat menimbulkan kepanikan warga. Sejumlah peserta Posyandu yang mayoritas merupakan anak-anak dilaporkan mengalami gejala mual dan muntah beberapa saat setelah menyantap makanan yang dibagikan.
Berdasarkan data sementara yang dihimpun, jumlah warga yang terdampak mencapai sekitar 40 orang. Para korban tersebar di beberapa wilayah, di antaranya Kampung Sirnabakti, Kampung Kaum, Kampung Neglasari, dan Kampung Mulyasari.
Di Kampung Sirnabakti RT 01/01, tercatat 11 orang terdampak, yakni Okih, Sehan, Regina, Neneng, Siti Sulastri, Eva, Sofhatul, M Arfan, Alifah, Ela Silvia, dan Zahra.
Sementara di RT 02/01 terdapat 2 orang korban, yaitu Sunariah dan Imas.
Di Kampung Kaum RT 07/02, terdapat 4 korban, yakni Dewi Fitriani, Ika, Mariska, dan Iren.
Jumlah korban terbanyak berada di Kampung Neglasari RT 08/03 dengan total 20 orang.
Salah satu di antaranya, Suwadi, diketahui harus menjalani perawatan di puskesmas. Korban lainnya yakni Uwas, Mikaila, Siti, Jejen Jaelani, Debby Puspitasari, Arka Alfariji, Indri Andriani, Titi, Arfan, Mikalif, Dede Rusyandi, Risma, Kalila Ayunda, Riska, Ranita, Kesya, Dewi Pertiwi, Azkia, dan Amel.
Sementara itu, di Kampung Mulyasari RT 10/04 terdapat 2 korban, yakni Imas Sukmawati dan Rema. Di RT 11/04 tercatat 1 korban, yaitu Dede Diana.
Hingga saat ini, total korban sementara mencapai 40 orang, dengan sebagian besar merupakan anak-anak peserta Posyandu.
Di sisi lain, muncul kejanggalan yang diungkapkan warga. Mereka mempertanyakan mengapa hanya peserta Posyandu yang terdampak, sementara dapur MBG diketahui juga melayani sekitar 2.500 siswa sekolah di Pasir Tanjung yang mengonsumsi menu pada hari yang sama.
Pihak terkait masih melakukan pendataan dan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Dugaan sementara mengarah pada keracunan makanan yang dikonsumsi saat kegiatan berlangsung, namun belum ada keterangan resmi mengenai sumber pasti penyebabnya.
Menanggapi kejadian ini, Ketua Distrik LSM Kaliber Kabupaten Bogor, Wawan, menyayangkan insiden tersebut, terlebih karena melibatkan anak-anak dan balita yang menjadi peserta Posyandu.
“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Program yang seharusnya memberikan manfaat justru menimbulkan dampak buruk. Ini menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap penyedia makanan dalam program MBG,” ujarnya.
Ia juga mendesak pemerintah dan pihak terkait untuk segera mengusut tuntas kasus ini serta meminta pertanggungjawaban dari pihak dapur penyedia makanan.
“Masalah ini menyangkut kesehatan dan keselamatan anak-anak. Harus ada evaluasi menyeluruh, dan jika terbukti ada kelalaian, penegakan hukum harus dilakukan,” tegasnya.
Di sisi lain, salah satu dokter praktik di Klinik Alfatih mengungkapkan bahwa berdasarkan indikasi awal, gejala yang dialami pasien mengarah pada keracunan yang bersumber dari makanan yang dikonsumsi.
Warga berharap adanya penanganan cepat serta evaluasi menyeluruh terhadap penyediaan makanan dalam program MBG agar kejadian serupa tidak kembali terulang (Endang M)