web analytics

SPPG Sirnarasa Mendapat Apreasi dari Siswa Sekolah

Bogor SNP – SPPG Sirnarasa Komitmen menjaga kualitas dan transparansi terus ditunjukkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Sirnarasa, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor. bahkan pihak SPPG Sirnarasa sampai sering mendapatkan apreasi dari pihak siswa sekolah karena makanan yang diberikan sesuai uang di harapkan. Sementara MBG sirnarasa melayani 2.999 penerima manfaat di Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Bogor, Selasa (24/2)

SPPG Sirnarasa menghadirkan menu makanan yang disusun sesuai standar dari Badan Gizi Nasional (BGN). Setiap hidangan dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak sebagai bagian dari dukungan terhadap tumbuh kembang serta masa depan generasi muda. Sebagai bentuk keterbukaan, pengelola secara rutin mengunggah dokumentasi menu harian melalui akun Instagram resmi mereka. Langkah ini dilakukan agar masyarakat dapat memantau langsung jenis dan kualitas makanan yang disajikan setiap hari.

Administrasi SPPG Sirnarasa menjelaskan, seluruh proses pengolahan makanan telah mengikuti petunjuk teknis (juknis) yang berlaku. “Untuk dapur, semuanya sudah sesuai juknis. Khusus selama Ramadan, sistem distribusi dilakukan dengan metode bundling tiga hari. Pengiriman dilakukan sehari sebelumnya. Menu selama bulan Ramadan juga disesuaikan, lebih banyak makanan kering dan tidak menyajikan makanan berkuah,” jelasnya.

Bahkan, ia juga meluruskan persepsi yang berkembang terkait anggaran per porsi. Menurutnya, nominal Rp. 15 ribu bukan untuk satu jenis porsi tunggal. “Ada porsi besar dan porsi kecil. Porsi besar senilai Rp. 10.000 untuk siswa SD hingga SMA, sedangkan porsi kecil Rp. 8.000 untuk anak PAUD dan TK,” terangnya. Setiap porsi makanan wajib memenuhi lima komponen utama gizi, yakni karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur mayur , serta buah buahan. atau pelengkap lainnya. Susu juga menjadi bagian dari menu, meski tidak diberikan setiap hari. “Tidak semua anak cocok mengonsumsi susu karena sebagian mengalami intoleransi laktosa. Karena itu, pemberian susu dilakukan satu kali dalam seminggu,” tambahnya. jelas Andri,

Sementara itu, Ketua SPPG Bogor Tanjungsari Sirnarasa, Andri, menilai bahwa anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) terlalu besar perlu dilihat dari sisi manfaatnya. “Memang anggarannya besar, tetapi dampaknya juga besar bagi ekonomi sekitar. Pengusaha tempe dan tahu yang sebelumnya memiliki tiga sampai lima karyawan kini bisa bertambah menjadi tujuh orang karena pesanan meningkat. Kami juga memprioritaskan suplai dari UMKM sekitar,agar UMKM pun bisa berjalan” tutup Andri (Endang M)