Cilacap SNP – Meski proyek pembangunan Heritage City (Kota Lama) atau yang dikenal sebagai Titik Nol Kilometer Cilacap belum rampung 100 persen, kawasan tersebut kini mulai ramai dikunjungi masyarakat dan pedagang. Pantauan pada Senin malam (15/12) menunjukkan aktivitas pengunjung sudah cukup padat.
Pembangunan Kota Lama tahap pertama ini menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Cilacap sebesar Rp. 5,6 miliar dan ditargetkan selesai pada 25 Desember 2025.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Cilacap melalui Kepala Bidang Tata Ruang, Agus Manaji, menjelaskan bahwa progres pekerjaan saat ini tinggal penyelesaian beberapa fasilitas.
“Pekerjaan yang tersisa itu pedestrian, kursi, dan di Tugu Nol. Lampu sudah terpasang, pohon-pohon juga sudah. Untuk Tugu Nol, tangganya sudah jadi dan sudah bisa dinaiki, tinggal menunggu kursi. Kalau tidak selesai sesuai target, tentu dari dinas akan ada sanksi,” jelasnya.
Agus Manaji juga memaparkan bahwa konsep penataan Kota Lama didasarkan pada sejarah awal mula Kota Cilacap. Menurutnya, perkembangan kota dimulai dari wilayah selatan yang dahulu menjadi pintu masuk utama, terutama pada masa kolonial ketika jalur transportasi dan perdagangan banyak mengandalkan perairan.
“Kota-kota besar itu umumnya bermula dari pelabuhan. Kota Cilacap tumbuh dari sisi selatan. Ini dibuktikan dengan adanya Gedung Pembantu Bupati (kantor Van de Regent) yang dulu berada di kawasan yang sekarang digunakan Dinas Pariwisata hingga ke arah timur sampai TK Adhyaksa,” ungkapnya.
Ia melanjutkan, berdasarkan informasi komunitas sejarah Cilacap, bagian tengah bangunan tersebut pernah mengalami kerusakan akibat pengeboman, sehingga bentuknya berubah dan kini digunakan sebagai rumah dinas Kepala Kejaksaan Negeri. Sementara bagian sayap bangunan masih ada dan difungsikan sebagai TK Adhyaksa dan kantor Dinas Pariwisata.
“Itu sebenarnya cikal bakal pemerintahan Cilacap, dan semuanya bermula dari selatan,” tambahnya.
Agus menyebutkan bahwa sebelum dilakukan penataan, kawasan tersebut cenderung sepi. Oleh karena itu, penataan Kota Lama dilakukan untuk menghidupkan kembali kawasan bersejarah agar memiliki aktivitas dan daya tarik.
“Caranya dengan menyediakan fasilitas umum, memperlebar pedestrian, menyediakan kursi, pencahayaan yang cukup, termasuk gazebo. Tujuan jangka panjangnya agar kawasan ini menjadi destinasi wisata murah meriah,” katanya.
Ia berharap, dengan semakin banyaknya pengunjung, kawasan tersebut akan hidup dan berkembang sebagai pusat wisata. Salah satunya melalui wisata perahu di Teluk Penyu hingga Kutawaru yang melibatkan komunitas nelayan setempat.
“Kalau ada kerumunan, nelayan harusnya bisa menangkap peluang, menawarkan wisata perahu. Dari situ bisa berkembang, bahkan ke depan bisa dibangun dermaga resmi untuk wisata bahari,” ujarnya.
Terkait pengembangan ke depan, Agus menegaskan pentingnya penataan dimulai dari wilayah selatan. Menurutnya, kawasan selatan memiliki potensi besar karena sejarah, lokasi bekas pelabuhan, serta peluang pengembangan wisata pesisir.
“Kalau dimulai dari utara, saya khawatir selatan tidak hidup. Padahal potensi justru ada di selatan. Kalau selatan hidup, efek gandanya besar, perdagangan dan jasa bisa tumbuh, transportasi juga bergerak,” jelasnya.
Ia juga berencana melibatkan sektor ekonomi kreatif (Ekraf) agar aktivitas pedagang tetap tertata rapi, sekaligus membuka peluang bagi pengusaha suvenir, kuliner, dan komunitas seni.
Sementara itu, Gunawan, salah satu pengunjung, mengaku senang dengan pembangunan Heritage City Kota Lama Cilacap.
“Sekarang jadi bagus dan ramai. Semoga tidak ada tangan-tangan jahil yang merusak atau mencoret-coret bangunan,” ujarnya. (JAS)