Cilacap SNP – Terlibat tawuran perang sarung, dua siswa SMK Boedi Oetomo Cilacap, masing masing berinisial LA siswa kelas 11 TO 3 dan ZPA siswa kelas 10 TO 5 disuruh mengundurkan diri tanpa diberi Surat Peringatan ( SP) terlebih dahulu.
Tawuran tersebut terjadi pada Kamis dini hari (13/3) sekitar pukul 00.30 WIB di Jalan DI Panjaitan, Kelurahan Tegalreja, Cilacap Tengah, Cilacap, Jawa Tengah. Tawuran ini melibatkan beberapa siswa dari sekolah yang berbeda.
RN orang tua LA, mengaku sangat keberatan dan kecewa dengan keputusan dari pihak sekolah. Dia memohon pihak sekolah untuk memberikan pembinaan dan surat peringatan agar LA dan ZPA jera serta tidak berani mengulangi kesalahan yang sama.
“Saya berharap pihak sekolah memberikan satu kesempatan dan pembinaan kepada LA maupun ZPA, seperti siswa dari sekolah lain, yang hanya diberi surat peringatan (SP) dari pihak sekolahnya,” ungkapnya, Senin (17/3).
RN sangat menyadari kalau anaknya melakukan kesalahan. Sebagai wali murid, dia memohon kepada pihak sekolah agar sangsinya tidak terlalu saklek (disuruh mengundurkan diri dari sekolah).
“Saya mohon keputusan pihak sekolah terkait anak saya dan temannya bisa dibatalkan. Jangan langsung disuruh keluar sekolah, tapi diberi surat peringatan terlebih dulu. Jika mengulangi lagi, silahkan dikeluarkan. Untuk kali ini saya mohon untuk diberi satu kesempatan,” tuturnya.
Hal yang sama juga disampaikan orang tua ZPA, TGH. Dia merasa sedih melihat anaknya tidak bisa mengikuti ujian semester seperti teman teman sekelasnya.
“Siapa yang tidak sedih, anak saya disuruh mengundurkan diri pada saat akan ujian. Saya sudah berusaha memohon kepada pihak sekolah agar diberi kesempatan,” kata TGH.
Dia menambahkan, dirinya sudah berusaha memohon kebijaksanaan ke Cabang Dinas Pendidikan Wilayah X di Purwokerto. Di cabang dinas tersebut TGH diterima oleh Kasie SMK, Agus Susilo.
“Setelah mendengar keluhan (aduan) kami, pak Agus menelpon Kepala SMK Boedi Oetomo. Dan setelah itu pak Agus menyarankan saya untuk menemui kepala sekolah. Menurut pak Agus itu permintaan kepala sekolah. Saya pun segera menemui kepala sekolah, namun ketika meminta ijin kepada security untuk bertemu kepala sekolah, security yang berinisial J mengatakan bahwa kepala sekolah sedang keluar kota. Informasi itu saya dapat setelah security komunikasi via smartphone ke Waka SMK yang berinisial I,” terangnya.
Dengan perasaan sedih dan kecewa, kata TGH, saya pulang tanpa adanya kejelasan karena tidak bisa ketemu kepala sekolah. Sebagai orang tua, TGH berharap pihak sekolah memberikan satu kesempatan kepada ZPA dan LA untuk tetap mengenyam pendidikan di SMK Boedi Oetomo hingga selesai (lulus sekolah).
“Saya sudah berusaha menjalin komunikasi dengan pihak sekolah tapi security terkesan menghalangi sehingga tidak bisa ketemu dengan kepala sekolah sesuai saran dari pak Agus Susilo Kasi SMK,” ucapnya.
Hingga saat ini, kedua orang tua siswa tersebut terus berusaha dan menemui Waka SMK Boedi Oetomo Cilacap, Indri, memohon untuk diberi kesempatan. Namun dari pihak sekolah tetap keukeuh agar kedua siswa yang terlibat tawuran pindah sekolah.
Terpisah, saat dihubungi melalui smartphone Waka SMK Boedi Oetomo, Indri, enggan membalas konfirmasi dari media, Rabu (19/3/2025).
Sehari sebelumnya pada Senen (17/3) dan Selasa (18/3) beberapa wartawan dari beberapa media sudah berusaha untuk konfirmasi, namun tidak diperbolehkan masuk oleh Security, dan mengatakan Kepala SMK Boedi Oetomo tidak berada di kantor dan Waka SMK Oetomo sedang sibuk. (JAS)