web analytics

Pencegahan TBC dan Penanganan Stunting Jadi Prioritas Dinkes Cilacap

Cilacap SNP – Pencegahan Tuberkulosis (TBC) dan penanganan stunting menjadi prioritas utama Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cilacap. TBC sebagai penyakit menular memerlukan perhatian serius dan penanganan yang berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, Hasanuddin, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (3/11).

Menurutnya, TBC merupakan salah satu prioritas nasional yang saat ini terus ditangani melalui berbagai program.

“Gerakannya bergotong royong untuk menemukan pasien yang terindikasi TBC. Namun demikian, masih banyak yang belum terjaring atau belum terdeteksi karena belum dilakukan scanning secara menyeluruh. Berdasarkan data, dimungkinkan masih banyak pasien yang belum ditemukan,” jelasnya.

Untuk mengetahui kasus TBC secara akurat, diperlukan pemeriksaan khusus. “Tanpa scanning, diagnosis tidak bisa dipastikan. Biasanya teman-teman Puskesmas melakukan rontgen mobile,” ungkapnya.

Ia berharap dengan ditemukannya kasus baru, pasien dapat segera diobati. Setelah itu dilakukan tracing keluarga untuk memastikan apakah ada anggota keluarga lain yang tertular. Pasien positif kemudian diobati sampai sembuh.

“Pengobatan harus rutin. Obat TBC tersedia lengkap di Puskesmas. Pengobatannya berlangsung sekitar enam bulan berturut-turut. Jika tidak rutin, penyakit tidak akan sembuh,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa selain TBC, penanganan stunting juga tetap menjadi fokus utama Dinas Kesehatan Cilacap.

“Stunting pada anak-anak masih terus kita tangani,” ujarnya.

Hasanuddin menambahkan bahwa selain pencegahan TBC dan penanganan stunting, program prioritas Dinas Kesehatan Cilacap meliputi pelayanan untuk ibu hamil, ibu bersalin, dan bayi baru lahir. Bahkan sebelum menikah, calon pengantin juga menjalani vaksinasi untuk memastikan tidak ada penyakit menular.

“Saya sebagai OPD yang bertugas membantu Bupati dalam pembangunan sektor kesehatan harus ikut mewujudkan peningkatan kinerja daerah, terutama dalam pencapaian visi dan misi. Salah satunya meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang unggul dan terampil,” ungkapnya.

Menurutnya, sasaran utama Dinas Kesehatan adalah meningkatkan usia harapan hidup masyarakat. Upaya itu dimulai dari pemeriksaan calon pengantin, memastikan kecukupan gizi ibu hamil, hingga pemantauan kesehatan bayi.

Pemeriksaan rutin dilakukan untuk memastikan ibu melahirkan dalam kondisi sehat, sehingga dapat menekan risiko kematian ibu dan bayi. Setelah bayi lahir, Dinkes memastikan perkembangan anak dipantau melalui penimbangan, posyandu, serta edukasi gizi untuk mencegah stunting.

“Mulai dari kandungan, gizi harus cukup untuk menghindari stunting. Setelah lahir, perkembangan anak kita pantau agar tumbuh sehat,” terangnya.

Selain itu, Dinas Kesehatan juga terus melakukan sosialisasi tentang pola hidup bersih dan sehat.

“Agar tingkat kesakitan menurun. Lebih baik melakukan upaya preventif dan promotif melalui edukasi kepada masyarakat,” ujarnya.

Dinkes juga mengupayakan pengendalian penduduk melalui program KB agar tercipta keluarga yang sehat dan berkualitas. Di sisi lain, pelayanan kesehatan terus ditingkatkan.

“Puskesmas dan rumah sakit kita dorong agar memberikan pelayanan terbaik, dengan mengedepankan senyum dan salam. Pemerintah daerah juga hadir membantu masyarakat tidak mampu melalui Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), yang didukung pemerintah pusat dan daerah, termasuk bantuan CSR,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa masyarakat yang sakit harus bisa mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik serta jaminan pembiayaan yang layak. (JAS)